The Naked Traveler

The Naked Traveler

by Trinity

Ada banyak kisah menarik yang dituturkan dengan gaya bahasa yang santai dan ringan oleh Trinity dalam buku ini.

Pada akhirnya, setelah menutup buku ini, bisa jadi kita semakin mencintai negeri sendiri.Happy Traveling!

What People Think about "The Naked Traveler"

Tapi mengecap nikmatnya business class di pesawat juga pernah dirasakan oleh Mbak Trinity karena tidak sengaja. Kalau bukan karena hoki, saya yang backpacker mana mungkin duduk di kelas bisnis pesawat karena tak sanggup bayar, Hal.42. Menginappun hanya bisa di hostel (ada huruf s diantara o dan t). Karena tersesat mbak Trinity malah pernah menemukan hostel yang mantap surantap di kota Omarama, New Zealand. Banyak sekali fakta-fakta unik yang ada di dalam buku ini. Kebiasaan itupula yang dilakukan Mbak Trinity ketika berada di Paris, Nanti banyak nyamuk, Hal.187. Banyak sekali fakta-fakta unik bin ajaib yang ada di buku ini (Makan rendang 2 kilo di airport, ngelabrak pejabat di Filipina, Ngangkang di Porter, Satu pesawat dengan TKI dll).

Dan buku The Naked Traveler (antaranya) sudah saya nekadkan untuk dimiliki. Cuma bahasanya sahaja sukar sedikit untuk saya hadamkan.

*Kalo yang fobia sama bulu ayam namanya apa yayang jelas masih asik buat diajak naik tebing, naik pesawat, atau diving..asal ga diajak ke peternakan ayam ajahehehe Terakhir: ternyata orang Sunda punya teman.

#1 Jendela yang dipasang gorden tapi ternyata tembok di film kejadiannya di Wisma Jampea (tempat gw nyaris nginep), di buku (hlm. 144), tapi klo di film yang makan sepupunya Trinity (lupa namanya). Dan waktu di Texas ditanya mau ke mana lagi, dia bilang ke Karibia.

Ramainya lalu lintas bloging ditambah dengan kegairahan dunia penerbitan setelah booming-nya cerita konyol seperti "Jomblo" menjadi angin segar kepada orang-orang hebat yang memiliki gaya cerita keren dan gaol getoh. The Naked Traveler bukan hanya menghadirkan kisah konyol dan cerita yang mati-matian dilucu-lucuin tapi kelucuan itu hadir dengan sendirinya kadang bahkan tertawa miris, TNT membawa pengetahuan umum dan info penting yang bisa kita dapatkan dari setiap perjalanannya. Membaca buku ini, gw yang juga punya mimpi mendarat di Italy dan menjelajahi Eropa baru kemudian ke Mekah (wuakakakkk pantesan ga' juga direstui Tuhan) bisa ikut menikmati dunia lewat tulisannya. Yang gw suka dari buku ini Trinity ga' sok jaim, dia emang suka jalan menikmati perjalanannya sesuai dengan kepribadiannya dan menceritakannya dengan apa adanya.

Memang selalu ada materi baru, tapi nggak proporsional aja sama materi daur ulang dari blog. Saya pernah suka banget sama tulisan seorang blogger, sampai saya beli kumpulan catatannya yang dibukukan, karena toh dalam promosi sang blogger, akan ada materi baru. Terus rasanya banyak materi baru yang belum pernah saya baca di blog Mbak Trinity (atau mungkin karena saya bukan pengunjung setia-setia amat, jadi seandainya banyak pun saya nggak langsung sadar...hehehe). Dan seperti saat saya baca posting blog Mbak Trinity, tetep nagih! OMG itu mimpi saya banget gitu lho, meski mungkin saya pengen coba yang di Kawarau Bridge dulu aja (tempat bungee jumping komersial pertama di dunia, meskipun ketinggiannya terasa cupu kalau dibandingin sama di Nevis yang dicoba Mbak Trinity).

Semua ini tidak lepas dari sebuah buku yang menurut saya merupakan pionir fenomena tersebut, yaitu The Naked Traveler, Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia. Terasa sekali perbedaan karakter Trinity yang tergambar pada buku DHH dan TNT. Banyak bagian yang membuat saya tertawa dalam buku ini. Seru dan banyak hal yang bisa dijadikan pegangan jika pembaca termasuk orang yang sangat berminat untuk menjadi backpacker.

Dia menulisnya tidak dengan model menceritakan perjalanannya satu-satu dari berangkat sampai pulang, melainkan dengan mengelompokkannya dalam topik-topik yang menarik, misalnya tentang airport, dugem, pijat, sasana hiburan yang memacu adrenalin, "ayam", penginapan, dan sebagainya, yang dilihat dari pengalamannya di berbagai negara.

Up to now, The Naked Traveler has been published in its third sequel and all are Indonesias best-selling travel book to date. In 2010, Trinity won Indonesia Travel & Tourism Awards as Indonesia Leading Travel Writer and dubbed as Heroine for Indonesian tourism by The Jakarta Post.