Bilangan Fu

Bilangan Fu

by Ayu Utami

Yuda, "si iblis", seorang pemanjat tebing dan petaruh yang melecehkan nilai-nilai masyarakat.

Marja, "si manusia", seorang gadis bertubuh kuda feji dan berjiwa matahari.Mereka terlibat dalam segitiga cinta yang lembut, di antara pengalaman-pengalaman keras yang berawal dari sebuah kejadian aneh-- orang mati yang bangkit dari kubur-- menuju penyelamatan perbukitan gamping di selatan Jawa.Di antara semua itu, Bilangan Fu sayup-sayup menyingkapkan diri.Pengarang menamai nafas novelnya "spiritualisme kritis".

  • Series: Bilangan Fu
  • Language: Indonesian
  • Category: Novels
  • Rating: 3.86
  • Pages: 548
  • Publish Date: June 2008 by Kepustakaan Populer Gramedia
  • Isbn10: 9789799101
  • Isbn13: 9789799101228

What People Think about "Bilangan Fu"

sepenggal paragraf yang tidak sesuai dengan emosi si pembaca (saat itu) membuat buku ini terpaksa menunggu 1 minggu untuk dibuka kembali. sebenar na siapakah yang bercerita, yang ingin bersuara dan mengabadikan kisah ini? banyak karakter dalam kisah ini yang memiliki 2 sisi. banyak sekali hal yang ingin disampaikan dalam kisah ini. wajar, ketika yuda sebagai pencerita baru bisa mengungkapkan na sekarang, 13 tahun kemudian (walau ada yang aneh dengan angka ini, kita bahas kemudian). tidak semua orang mengetahui sungguh apakah yang terjadi pada masa itu dan setidak na pencerita mampu memberikan gambaran yang cukup untuk situasi yang terjadi saat ini. masa di mana orang banyak dibungkam demi kepentingan kekuasaan, kebenaran yang jatuh ke bumi, kebenaran yang ditancapkan, bukan kebaikan yang disangga (begitulah konsep menurut parang jati). begitulah jawaban petugas kelurahan dan kecamatan kepada masyarakat samin yang ingin memiliki ktp untuk kepentingan-kepentingan tadi. sungguh, mengusung tak hanya persamaan hak manusia, tapi juga persamaan perlakuan kepada pria dan perempuan. jati yang melulu menjadi fokus penceritaan yuda, seakan membuat kisah ini sebagai biografi seorang parang jati. namun, walaupun akhir yang demikian sudah dapat diketahui oleh pembaca, buku ini tetap tidak kehilangan kisah na. yang malam itu bukan polos, melainkan dalam dan sedih. saat otak menjadi incaran orang-orang yang hanya mengandalkan kekuasaan, bukan otak. bukan bearti manusia yang mengandalkan kekuasaan ini tak punya otak, karena pada dasar na semua manusia punya otak. hanya mampukah mereka menggunakan otak na dengan benar, tanpa diperbudak dan menjadi robot dari otak yang terprogam. nb: untuk yang terlahir 21 juni, ntah fiksi atau nyata, bukan kebenaran yang penting tapi kepercayaan akan sesuatu itu ada. bukan rasa kasihan karena kasihan hanya ada bagi mereka yang tak mampu melakukan apa-apa.

Dikemas dengan gaya bahasa yang lebih padat dan filosofis dibanding Saman dan Larung, juga dengan banyak analogi dari lakon-lakon pewayangan dan Babad Tanah Jawi, Bilangan Fu menawarkan juga kajian ulang (dan terutama sudut pandang baru) terhadap apa yang selama ini dianggap takhayul. Saya selalu tidak sabar untuk membaca--dan membaca ulang--setiap tulisan Ayu Utami.

Citra porno yang telanjur menempel pada perempuan lajang bertubuh ramping ini juga sempat membuat teman-teman saya yang hendak membeli (dan membaca) buku ini mempertanyakan : masih sejenis nggak ya buku ini dengan Saman? Bilangan Fu barangkali akan menjadi sebuah cerita yang berat seandainya Ayu tidak menuliskannya dengan bahasa yang gurih, sebab ia, novel ini, memuat gagasan dan kritik Ayu pada tiga hal yang dianggapnya sebagai ancaman kebebasan dan demokrasi, yakni 3 M: modernisme, monoteisme, dan militerisme. Namun, secara cerdik Ayu menyiasatinya melalui jalinan kisah dua pemuda pendaki tebing yang tampan dan cerdas: Yuda dan Parang Jati. Yuda dan Parang Jati tidak berdiri berseberangan sebagai dua orang seteru, tetapi justru saling bahu-membahu menjadi protagonis melawani musuh bersama: ya 3 M itu. Yuda dan Parang Jati mengenalkan agama baru mereka : pemanjatan bersih atau yang lebih ekstrem lagi sacred climbing, yaitu teknik memanjat dengan sesedikit mungkin atau sama sekali tidak melukai tebing-tebing dengan alat-alat panjat modern seperti bor dan paku. Bilangan Fu nyaris terjerumus menjadi novel demikian seandainya Ayu hanya fokus pada ide besarnya itu dan melupakan unsur-unsur hiburan dalam bukunya ini. Kendati saya sempat terserang jenuh juga oleh banyaknya kutipan kliping surat kabar dan majalah, artikel serius Parang jati, serta dialog panjang lebar Yuda dan Parang Jati yang sangat ilmiah, namun secara keseluruhan novel ini enak dibaca. Marja itu pacar Yuda yang dengan tersirat dan samar-samarmelalui dugaan-dugaan Yudadiceritakan juga menaruh hasrat kepada Parang Jati.

3 M itu menurut saya juga punya kebenaran tersendiri, dalam konteks yang tepat. Sudah ada begitu banyak contoh yang menunjukkan bahwa dari sejak didirikannya, pengikut monotheisme menunjukkan sikap toleran terhadap yang lain, sedang pengikut polytheisme dan atheisme juga tidak kebal terhadap fanatisme dan radikalisme (lihat saja militansi pengikut Hindu di India). Begitu yang lain ikut mencoba dan tidak terjadi apa-apa, runtuhlah keangkeran mitos ini dan kita harus menciptakan mitos baru agar mereka mau tetap di rumah. Apa ini karena jauh di dasar lubuk hati beliau tertanam kepercayaan bahwa cara berpikir manusia pedesaan itu selamanya begitu dan tidak akan mempan diisi dengan fakta-fakta ilmiah yang rasional?

bahwa pandangan kita akan nasib, ternyata dipermainkan oleh maksud-maksud politis orang-orang yang di atas sana (sedihnya, itu bukan tuhan). dan lucunya, itu bukan kesimpulan ayu, tapi kesimpulan kita.

Dalam perjalanan kisahnya Yuda dan Jati bertemu dengan berbagai konflik khas bangsa Indonesia, iri dengki serta kedangkalan pemahaman akan banyak hal, terutama mengenai spiritualisme. Isme yang ingin di perlihatkan Ayu memang berulang-ulang hadir di pikiran saya dalam beberapa waktu ini, mengenai pendapatnya tentang kebenaran yang tidak melulu harus langsung diungkapkan, namun harus dipanggul terlebih dahulu, juga mengenai sikap lalu kritik yang begitu bijaksana, serta tentu , mengenai spiritualisme kritis itu sendiri.

aku bukan pemanjat tebing sejati yang mejauhi hiruk pikuk kota dan merasakan udara kebebasan di antara awan-awan aku hanya perlu udara segar melepaskan kepenatan agar bisa kulihat belahan jiwaku semakin dekat dipeluk awan-awan aku bukanlah mereka... ini bukan lg kisah cinta segitiga antara Yuda, Jati, Marja, tp ada Segul, lalu Dayang Sumbi.. lucu ya, politisasi, humor dan kejenakaan yang tidak pada tempatnya justru menjadi klimaks perhatian dalam buku yang cukup bt jd pemberat kepala ini..

Oke, saya paham, tapi maksud saya adalah metaforis, artinya ketika suatu karya lahir dan telah selesai ditulis, dia bicara tentang dirinya sendiri, bukan tentang penulis. Buku ini itu seperti bayi yang lahir dari rahim seorang ibu, besar dan dididik olehnya, tapi sampai dewasa pun si Ibu takut dan tak mau melepaskan anaknya. Ibu yang penuntut mencampuri segala urusan si anak, sekalipun anak ini sudah dewasa dan sudah mampu berpikir untuk dirinya sendiri.

Foto Ayu Utami yang terpampang di kulit belakang buku juga terus membayangi suara maskulin tokoh utama novel yang bersudut pandang orang pertama ini. Menurutku ini adalah sebuah novel ide yang surealis. Karena masing-masing menilai kebenaran diri dan (kesalahan) yang lain dengan kerangkanya masing-masing.

Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.