Always, Laila: Hanya Cinta Yang Bisa

Always, Laila: Hanya Cinta Yang Bisa

by Andi Eriawan

Hasilnya adalah sebuah karya yang puitis dan Idealis, setidaknya dari standar saya.

Maka yang terjadi adalah, cerita dari dua sisi yang dilihat dengan rasa.

Karena jika dengan mata maka ada banyak sisi yang tak tertangkap.Novel yang membuat kita lebih sadar pentingnya untuk selalu berkata dan berbuat cinta kepada orang yang kita cintai.

  • Language: Indonesian
  • Category: Romance
  • Rating: 3.82
  • Pages: 228
  • Publish Date: 2005 by Gagas Media
  • Isbn10: 9793600381

What People Think about "Always, Laila: Hanya Cinta Yang Bisa"

Mungkin karena covernya yang ga eye catching, saya bahkan tidak tahu ada novel ini. Namun, bukan karena itu Laila memutuskan kuliah di sana, tetapi karena dia bertemu dengan Bubun, seseorang yang dulu pernah disukainya sewaktu SMP. Meski Laila berusaha menjaga kesetiaannya pada Pram, Laila tidak bisa memungkiri bahwa dia juga masih menyukai Bubun. Ada satu analogi cinta dalam novel ini yang membuat saya tersenyum, dimana penulis mengibaratkan cinta itu seperti kecoak yang diciptakan dengan energi luar biasa dan mampu bertahan selama jutaan tahun. ). Always, Laila membawa sebuah pesan bagi pembaca untuk tidak menilai sebuah cinta dari satu sisi saja, seperti dalam kutipan puisi ini Gemuruh di hatiku mereda sendirinya, langit menjadi lebih cerah, dan udara tak lagi menyesakkan dada.

Novel ini sukses membuat gue membuka mata dan takjub! Dan alhasil novel ini selalu berada dalam genggaman dan tidak terlepas sampai gue selesai membacanya. dan itu salah satu yang membuat gue bangga. Gue setuju banget kalau novel ini diangkat ke layar lebar asal alur dan dialognya sama dengan novelnya. Sikap Pram yang suka becanda berhasil bikin gue tertipu dan berada di posisi Laila.

Dan ini udah yang keempat atau kelima kalinya gw gak tidur gara-gara baca novel. Gw sih udah duga, palingan juga dia selingkuh, hamil sama cowok lain, mandul, atau lesbi, tapi malah rada kecewa sama alasan yang sebenernya pas udah sampe ending. Banyak sih hal yang gw suka dari novel ini: gaya berceritanya yang lembut (gw gak ngerti kenapa sebelum masuk ke cerita dibilang kalo novel ini puitis, menurut standar gw sih ini belom sepuitis itu. Nah tapi banyak juga yang saya gak suka... 1. Ada beberapa hal janggal yang berusaha saya ampuni, tapi begitu ketemu kata thank's lebih dari lima kali rasanya saya sebel banget, pengen lempar buku. Emang dia awalnya gak bisa masak (kalo emang itu bisa dikategorikan kekurangan sih) tapi terus dia diajarin Pram masak sampe pas gede udah bisa masak dengan sangat enak. Dia (sumpah, kayaknya gak ada kata lain yang bisa menggambarkan bocah satu ini) sempurna. Tokoh lain selain Laila dan Pram sangat lemah-----kecuali Bubung, mungkin. (Meski gw gak ngerti alesan dia masih nyimpen rasa sama Laila setelah bertahun-tahun gak kontek dan gw gak bisa melepaskan imej gw bahwa Bubung ini juga another Mr. Perfect, oh betapa beruntungnya Laila...) Yang gw tau dalam sebuah novel seorang penulis harus memerhatikan tokoh-tokoh lainnya, gak cuma dua (atau tiga atau satu) orang tokoh utamanya. Bahkan gw baru tau Laila punya kakak perempuan di tengah-tengah buku dan abis itu pas ending gw lupa dia punya kakak, bapak, emak. Gw gak tau sih apa maksud dan tujuan si penulis, tapi kalo lu bosen di tengah-tengah lu bisa aja balikin novel ini ke rak buku lagi karena gak ada selingan apa-apa diantara LailaPram-LailaPram-LailaPram itu. Alasan Laila mutusin Pram sangat-sangat-sangat gak masuk akal. Lu udah jadian sama cowok lebih dari delapan tahun, terus lu putusin dia cuma karena lu kena karsinoma yang....yah.....bikin lu mandul? Ck. Udah gitu keluarganya Laila yang jelas-jelas tau alasan (bodoh) kenapa Laila mutusin Pram juga sama sekali gak berusaha nyatuin mereka lagi. Paling enggak meski Laila larang dia apa gimana, kalo dia punya hati dan otak yang berfungsi dengan baik dia bisa diem-diem kasih tau Pram, biar tu bocah gak uring-uringan terus. Malah bagus banget kalo dibaca sama orang yang gak terlalu banyak mikir detail ini-itu kayak gw.

Ok, mungkin bukan karena profesi tokohnya, yang kebetulan sama denganku, tapi tetap saja, eeh, koq bisa yaa, kebetulan buku/film yang kalian rekomen bertokoh dengan latar pendidikan yang sama? Hanya sekedar kata2 bahwa Tom, pernah kuliah arsitektur dan bisa menggambar sketsa gedung2 di tangannya. Namun karena tokoh utamanya ada dua, rasanya sayang karena menjadi timpang si Pram ini seperti sedang kuliah sambil lalu saja. Padahal setting waktu di masa kuliah ini cukup panjang, cukup sebenarnya untuk menggambarkan 'penderitaan' mahasiswa arsitektur (setengah curhat), dengan kehidupan perkuliahannya yang unik, sering pulang pagi, mengerjakan tugas seminggu, menginap di kampus, presentasi2 tiap bulan, pameran, survey, ekskursi, yang membuat latar cerita jadi hidup. Seperti film cin(T)a, yang kedua tokohnya mahasiswa arsitektur, dan di sini digambarkan dengan jelas tentang kehidupan mereka, bahkan menjadi nafas film ini, kehidupannya, cerita sehari2 begitu terungkap kuat, salah satu film favoritku. God is an Architect, God is a Director?Profesi tidak sekedar tempelan, latar belakang, tapi menjadi karakter yang menguatkan.

Novel ini gak sengaja ketemu gitu aja di Gramedia merdeka depan jajaran mcd waktu nganter temen ke BEC. Waktu masuk lebih dalam ke bagian rak yg agak pojok bgt bgt bgt dan buku-bukunya kesembunyi, aku liat cover ini dan langsung noleh dua kali buat mastiin bener atau gak. Langsung jingkrak-jingkrak nyari temen aku buat bilang, padahal dia juga gak tau gimana aku pingin punya novel ini sih. Ya semua orang mungkin gitu tapi penulis emang apa adanya sama kayak Pram. Masih nyesek aja bayangin kisah mereka tapi lebih tenang lagi baca puisi akhir Pram buat Laila. Cinta mereka mungkin abadi menurut aku, Laila mungkin gak akan nikah sama siapa pun dan Pram emang udah di dunia lain. Tokoh Laila dan Pram tuhh emang sempurna bgt. Suka bgt waktu Laila bilang Pram memperlakukan dia kayak perempuan terakhir di dunia. Aku yakin semua yg baca mungkin bisa damai sama hatinya sama kayak Pram di akhir-akhir puisi dia buat Laila. Gak ada kejelasan dan pertemuan mereka diakhir yg bikin sakit hati aja sih menurut aku.

Sewaktu membaca, saya tidak bisa lepas dari genggaman buku ini. Buku ini bercerita tentang kisah kasih dua anak yang baru masuk SMA sampai mereka masuk ke dunia kerja. Sampai akhirnya, memasuki gerbang perkuliahan, Laila bertemu dengan Burhan yang tidak lain adalah lelaki yang sangat mendambakannya sejak SMP. Ia merasakan perhatian yang lebih dari Burhan, terlebih ketika dirinya sedang bermasalah dengan Pram. Namun hati Laila tak bisa berbohong, ia sangat mencintai Pram dengan segala tingkah lakunya.

Baru sadar saya sudah baca novel ini. Bener-bener leave me hanging on sembari bertanya-tanya 'kenapaaaaah' dan kalau nggak salah saat itu lagi ada acara keluarga, dan saya malah masuk kamar terus nyuri baca sendirian...

Hal pertama yang membuat aku tertarik baca buku ini ialah setting ceritanya ITB dan Bandung..

Gue udah tau novel ini dari SMA, tapi baru sempat baca pas kuliah (lupa semester berapa, pokoknya pas tahun 2011). Novel of The Day: Always, Laila, Katakan Cinta Sebelum Terlambat Minggu, 13 November 2011 YEAH. Pokoknya, katakan aja cinta sama seseorang yang kita cintai. Kayak novel yang gue review ini. Novel yang gue bedah ini, emang ngomongin tentang cinta. Always, Laila adalah novel yang gue review kali ini. Jadi sepanjang baca novel ini, kita emang bakal disuguhkan keseharian dan dialog-dialog mereka berdua. Well, singkat cerita, kisah dibuka dengan Laila yang mendapatkan kado dan surat ucapan selamat ulang tahun dari Pras alias Phrameswara. Laila udah nggak mau berhubungan lagi sama mantan pacarnya itu. Tapi, dalam surat itu, Pras malah menegaskan bahwa perasaan cintanya pada Laila tidak pernah berubah, meskipun telah berpisah sekian lama. So, kita pun nggak bakal lama-lama bingung dan tetep bisa melanjutkan untuk mengikuti kisahnya. Tak perlu membutuhkan waktu yang lama, Laila langsung menyadari bahwa dia pun masih menyayangi lelaki itu. Namun, ketika Laila mencari keberadaan Pram, lelaki itu malah sudah pindah ke Yogyakarta. Nah, selama menyusul Pram itulah, sering terjadi konflik batin di hati Laila yang mengantarkan gadis itu untuk mengingat-ingat kembali masa lalunya. Dan, sesuatu itulah yang menyebabkan Laila memutuskan berpisah dengan Pram. Sebenarnya, apa sesungguhnya sesuatu yang sangat dirahasiakan Laila sehingga dia memutuskan untuk berpisah dari Pram? Tapi, pada penasaran nggak sih gimana kelanjutan kisah Laila dan Pram? Ternyata, menurut penuturan orang-orang di kantor Pram, lelaki itu memang tidak pernah melupakan Laila. Oleh karena itu, Laila udah memutuskan kembali, dia akan kembali pada Pram. Makanya, katakana cinta pada orang yang kita sayang sekarang juga, ketika masih ada waktu, sebelum semuanya terlambat, untuk selamanya. Terus, seperti tagline novel ini, Hanya Cinta yang Bisa. Hanya cinta yang bisa membuat Pram bisa bertahan menjaga perasaannya pada Laila. Hanya cinta juga yang bisa membuat kita semua ada dan hidup di dunia ini. Jadi, masih nggak percaya juga sama kekuatan cinta? Buat anak-anak Untirta yang berminat baca novel ini, sok mangga dipinjem di perpus pusat kampus kita.