Mencari Telur Garuda

Mencari Telur Garuda

by Nanang R. Hidayat

Kesadaran menghargai sejarah tidak pernah dibangun di negeri kita.

Dengan demikian, kita tidak pernah belajar apapun.

  • Language: Indonesian
  • Category: Asian Literature
  • Rating: 4.00
  • Pages: 140
  • Publish Date: June 2008 by Penerbit Nalar
  • Isbn10: 9792690166
  • Isbn13: 9789792690163

What People Think about "Mencari Telur Garuda"

ADEGAN PERTAMA: Pertama kali yang dia datangi adalah Ruang Guru, dan langsung bertemu dengan seorang Guru PPKN dan Guru Pendidikan Komputer, si Presenter meminta kepada 2 guru tersebut, jika dia sebut satu nama depan tokoh pahlawan maka 2 Guru tersebut diminta untuk meneruskannya. Setelah minta ijin pada para murid yang lagi diganggu pelajarannya, si Presenter menanyakan kepada Guru Kimia tersebut, "Pak,kenal dengan Cut Tari?", (buat yang gak tahu, Cut Tari: nama salah satu artis atau presenter gosip di Indonesia ). Dan lebih mirisnya, Guru Kimia tersebut menjawab, "Iyah itu salah seorang Pahlawan Indonesia."...dan bla-bla-bla...dia menjelaskan kenapa si Cut Tari ini belum ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional. Kemudian menanyakan, "Coba sebutkan 5 Pahlawan Perempuan Indonesia!", dan anak-anak SMA itu menjawab sambil bersahutan, " Cut Nyak Dien, Cut Mutia, Cut Keke, Cut Tari dan Cut Bray."....Duh, miris sambil tertawa nih si Presenter. Kemudian si Presenter meminta kepada anak-anak SMA tersebut untuk menyanyikan lagu MENGHENINGKAN CIPTA....dan lebih parahnya, ada yang salah lagu dan ada yang bilang lupa....whoaaaaaa...perlu ditanyakan ke tuhan Gieb nih....heheheeh. Dan anggota band ini disuruh menjawab nama pahlawan yang ada di lembar-lembar uang tersebut. Dan parahnya mereka ini hanya bisa menjawab yang gambar Soekarno-Hatta di uang 100 ribuan. Maka beruntunglah ada Buku Mencari Telur Garuda ini, paling tidak dengan membaca bersama seperti ini membuka mata kita mengenai sejarah asal mula Lambang Negara kita, dan berbagai negara yang juga memakai Burung sebagai lambang Negara mereka. Jadi pas lihat di Toko Buku dengan cover telur dan setelah dipegang dan dibaca covernya, kok ada si Om yang jadi pengantarnya...walah perlu dibawa pulang nih...hehehehe.

(hehe...takut ditimpuk sama mas Anto nih) Nah buku ini mencoba menyampaikan keprihatinan tersebut, dimulai dari sejarah terpilihnya burung Garuda itu sebagai lambang negara dan Pancasila sebagai ideologi negara. ya baca aja sendiri) dengan komposisi bulu-bulu yang disesuaikan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia dan yang paling menyolok adalah perisai Pancasila yang senantiasa menghias dada Garuda kesayangan kita itu. jawabannya ada di lubuk hati yang terdalam...(wuaa...beraaatss...) Meski sebenarnya permasalahan yang ditampilkan adalah serius (ini lambang negara kita, Bos!), tapi disampaikan dengan cara yang semi santai dan dilengkapi dengan foto-foto patung Garuda Pancasila di beberapa daerah serta gambar-gambar garuda pancasila dalam berbagai persepsi masyarakat (termasuk anak-anak) atas lambang negara tersebut.

Negara saya mempunyai lambang negara Garuda Pancasila. Dan yang lebih penting lagi, apakah rakyat Indoneis tahu siapa sebenarnya perancang lambang negara kita? Menelusuri asal muasal lahirnya Garuda Pancasila, yang digunakan sebagai lambang negara kita, Indonesia tercinta.

rupanya ada banyak sekali representasi lambang negara kita itu tadi. produksi lambang negara oleh rakyat anggota bangsa itu sendiri perlu diakui, tidak hanya satu arah yang dianggap resmi.

Waktu itu saya mencatat dengan sisa ingatan saja, namun halaman 34 buku ini kembali menorehkan luka yang diperlukan bagi kesadaran. Semua dibiarkan begitu saja, tidak pernah dicatat dan dipelajari untuk bisa ditarik hikmahnya. Semua tahu bahwa yang namanya Garuda itu ada kaitannya dengan lambang negara, ideologi Pancasila, dan tentunya yang tidak boleh dilupakan adalah burung satu ini adalah pengikat bangsa akan janji proklamasinya dulu untuk masa depan bersama. Bahkan untuk sejarah sebuah burung yang simbolik dan penting bagi imaji bangsa ini. Tirai imaji akan Garuda yang perlu terus digali, bukan saja di ranah sejarah, ranah seni, namun juga apakah garuda bisa lebur dalam budaya pop negeri ini, seperti nasionalisme ala lagu patriotik Cokelat.

Entah ide lambang negara berasal dari mitologi maupun adaptasi dari sang Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) yang endemik Jawa (bukan epidemik seperti tertulis di buku), sifat kedua sumber menggambarkan sejarah dan kepribadian manusia Indonesia. Karena seekor capung tidak tepat menggambarkan sejarah dan kepribadian bangsa ini.