Catatan Hati Seorang Istri

Catatan Hati Seorang Istri

by Asma Nadia

Dua buah buku (Catatan Hati Seorang Istri dan Karenamu Aku Cemburu) menjadi jembatan pembuka bagi kami membuka diri.

Bagaimana mungkin buku yang sama juga menggerakkan seorang anak yang selama ini tumbuh dewasa dalam kemarahan akan ayah-nya yang mengkhianati ibunya, kemudian menjadi memahami dan memutuskan memaafkan sang ayah.

Catatan Hati Seorang Istri telah membangkitkan gelombang empati puluhan ribu pembaca perempuan di tanah air, khususnya para istri, akan persoalan-persoalan perempuan dan rumah tangga muslim, yang selama ini seakan tabu untuk diungkap.

Belum pernah ada sebuah buku yang begitu besar pengaruhnya dan membangkitkan semangat para istri di tanah air untuk menulis.

Lewat buku ini, Asma Nadia- pengarang yang telah mendapatkan banyak penghargaan nasional dan regional ini (terakhir tercatat sebagai pengarang fiksi terbaik Islamic Book Fair 2008, lewat buku Istana Kedua), memang secara khusus mengajak pembacanya untuk menjadikan kegiatan menulis sebagai sebuah terapi, juga cara untuk mengekspresikan kerumitan hidup yang dihadapi.

Lewat Catatan Hati Seorang Istri, Asma Nadia- penulisnya dimusuhi oleh sebagian laki-laki, namun uniknya juga mendapatkan banyak ucapan terima kasih dari para suami, yang merasa jatuh cinta lagi dengan istrinya.

  • Language: Indonesian
  • Category: Nonfiction
  • Rating: 3.91
  • Pages: 212
  • Publish Date: April 2007 by Lingkar Pena Publishing House
  • Isbn10: 9791367019

What People Think about "Catatan Hati Seorang Istri"

Hanya karena tidak ada buku bacaan lain, tidak saya duga, buku ini bukan cuma high recommended buat istri, calon istri atau para ibu. Diawali dengan keinginan hati si penulis, Asma Nadia yang tidak hanya ingin meneropong ke dalam hati, namun juga mencoba memasuki bilik hati perempuan lain dengan menuliskan catatan atau cerita dari perjalanan kisah perempuan-perempuan menghadapi hidupnya. Ikhwan tersebut berkata begini, Jika saya menikah lagi : Pertama, kebahagiaan dengan istri kedua belum tentukarena tidak ada jaminan untuk itu. sementara luka hati istri pertama sudah pasti, dan itu akan abadi. Buku ini menyajikan sekitar 25 judul catatan hati dan saya rasa wajib dibaca tidak hanya para istri, namun juga perempuan dan lelaki yang ingin mengerti arti dari pernikahan yang abadi.

Sebuah buku karangan mbak Asma Nadia yang berjudul "Catatan Hati Seorang Istri". Bagaimana kesetiaan, keikhlasan dan ketabahan seorang istri dalam menghadapi pengkhianatan, penganiayaan (lahir/bathin), serta perlakuan tidak menyenangkan dari suami yang disayangi. Tak hanya itu, ada juga cerita mengenai kesetiaan dan kasih sayang seorang suami yang selalu membuat istri dan keluarga terdekat merasakan kebahagiaan dan rasa syukur yang melimpah karna telah memilikinya. Setelah membaca buku ini, aku jadi berpikir "betapa tipisnya kesetiaan lelaki jaman sekarang" seperti yang digambarkan oleh mbak Asma.

:D dan hasilnya,, Saya menemukan perspektif baru setelah baca buku ini. Percayakan saja pada-Nya. Insya Allah aman dari gangguan setan yang terkutuk :D #tapi keknya gak semudah seperti yang diucapkan ..

Persembahan spesial Penerbit Asma Nadia Buku terbaru dari Asma Nadia: New Catatan Hati Seorang Istri (edisi revisi CHSI plus 12 tulisan baru) Akankah abadi cinta yang telah terikat oleh tali suci, jika tak kau jaga sepenuh hati? Apakah yang tercatat di hati istri, ketika suami melakukan kekerasan fisik ataupun psikis? Testimoni dari pembaca buku pertamanya: Mbak, kamu benar-benar memberikan begitu banyak pencerahan bagi keutuhan rumah tangga kami yang hampir karam. Tanpa kata tanpa bersua, buku Catatan Hati Seorang Istri menjadi jembatan pembuka bagi kami membuka diri. Satu hal yang terpikir adalah, para suami harus membaca buku ini.

Mbak Asma) begitu berkeinginan memukul wajah seorang lelaki yang berkisah tentang keinginan poligaminya. Menunjukan secara jelas pemikiran Asma yang kurang menyetujui syari'at ta'adud ini.

Dalam buku ini Mbak Asma Nadia menyatakan "Telah lama saya meneropong, tidak hanya ke dalam hati sendiri, melainkan mencoba masuk ke bilik hati perempuan lain, lewat kisah-kisah yang mereka bagi kepada saya. Dalam buku ini Mbak Asma Nadia bukan sekadar bercerita tentang perasaan dan tragedi perempuan, namun juga menyampaikan hal-hal yang tidak kita sangka dan bahkan lebih tragis dari sebuah fiksi.

Dalam buku ini Mbak Asma Nadia menyatakan "Telah lama saya meneropong, tidak hanya ke dalam hati sendiri, melainkan mencoba masuk ke bilik hati perempuan lain, lewat kisah-kisah yang mereka bagi kepada saya. Dalam buku ini Mbak Asma Nadia bukan sekadar bercerita tentang perasaan dan tragedi perempuan, namun juga menyampaikan hal-hal yang tidak kita sangka dan bahkan lebih tragis dari sebuah fiksi.

Well, memang banyak kisah-kisah seperti yang saya sebutkan diatas tadi, namun sebagai seorang wanita yang nantinya akan menggandeng jabatan sebagai seorang istri alias belum menjadi istri, buku ini membuat saya tau bahwasanya kisa seperti itu memang ada, ga cuma di novel atau film, tapi memang ada di kenyataan.

Bukan macam kisah dongeng Sleeping Beauty (bangun-bangun sudah dapat putera raja), tetapi ada perjuangan dan kisah diri sendiri yang perlu dibina sebelum kemudiannya banyak pula menggunakan 'kami'. Ada satu kisah, ditanya pada Pak Hamid, apa sebabnya menikah lagi?

Asma Nadia Education: Bogor Agricultural University (IPB, 1991) Home FAX: +622177820859 email: [email protected] Working Experiences: I was working as a CEO of Fatahillah Bina Alfikri Publications, and Lingkar Pena Publishing House, before starting AsmaNadia Publishing House (2008) Writing residencies: in South Korea, held by Korean literature translation institute (2006) & and in Switzerland held by Le Chateau de Lavigny (2009) Writing Workshop: -Conducting a creative writing (novel), Held by Republika News Paper, 2011 -Writing workshop instructor for (novel) participants from Brunei, Singapore, Indonesia, Malaysia, held by South East Asia Literary Council (MASTERA), July, 2011 -Conduct a writing workshop for Indonesia Migrant Workers in Hongkong (2004,2008, 2011), and for Indonesian students in Cairo, Egypt (2001, 2008), and University of Malaysia. Derai Sunyi (Silent Tear, a novel), won a prize from MASTERA (South East Asia Literary Council), as the best participant in 10 years MASTERA, 2005. 7. Rembulan di Mata Ibu (The Moon in the Mothers Eye, short stories collection), won the Adikarya IKAPI (The Indonesian Book Publishers Association) Award, 2001 9. Dialog Dua Layar (Two Screens Dialogue, a short story collection), won the Adikarya IKAPI (The Indonesian Book Publishers Association) Award, 2002 10.