Perburuan

Perburuan

by Pramoedya Ananta Toer

Novel pendek PAT ditulis semasa ia di dalam penjara memaksa kita mengingat-ngingat terus bahwa kebebasan tidak bisa dianggap gampang saja datang dengan sendirinya. Perburuan memiliki segala kewenangan yang sah dari seorang yang mampu bertahan, dan mengandung sebanyak-banyak kebenaran semampu kita menulisnyaLawrence Thornton , penulis Imagining Argentina

  • Language: Indonesian
  • Category: Fiction
  • Rating: 3.80
  • Pages: 173
  • Publish Date: 1994 by Hasta Mitra
  • Isbn10: 9798659007
  • Isbn13: 9789798659003

What People Think about "Perburuan"

Our hero in the book revolted against the Japanese and is now a hunted fugitive disguised as a beggar. Like the authors other work, including All That is Gone, which I have reviewed, the main theme is the human toll of warfare.

Melihat buku ini sebagai suatu keratan dari zaman Jepun, yang sejarahnya sama2 dikongsi Malaysia dan Indonesia, tetapi dari mata orang Indonesia, memperbaharui ingatan terhadap Sungai Mengalir Lesu. Betapa sastera itu seperti tangan ghaib yang boleh mengkondisikan sikap bangsa sesebuah negara, saya rasa buku inilah buktinya, apabila dibandingkan dengan Sungai Mengalir Lesu. Dan seperti biasa, buku2 Pramoedya membuat saya mencatat. Membaca buku ini terasa mahu jadi muda dan revolusioner sekali lagi, mahu hanyut dalam arus idealisme hingga jadi pertapa.

The reason is, I read the English translation "The Fugitive" first. This year, I decided to read the original Indonesian version and it is so much better. The pacing is quite intense and I liked how the story only focused on 4 different scenes, thus there were only 4 chapters. At the beginning of the novel, Hardo stumbles upon his would-be father-in-law. This year, I'm challenging myself to read more books in German and Indonesian and compare it to the English originals/translations.

Hardo adalah seorang prajurit Indonesia yang berhasil lolos dari tawanan Jepang yang mana saat ini keberadaannya masih diburu pihak Nippon. Sejauh yang saya tangkap, Hardo ini prajurit cerdik yang selalu bisa lolos dalam cengkraman Jepang. Saya masih teringat juga kalau sempat terjingkat saat sadar kalau Den Hardo ini hanya berpakaian cawat yang menutupi kemaluannya. Baca sendiri saja :D * Overall, novel ini bercerita pendek dan beralur lambat. Dibanding Max Havelaar yang baru saja saya baca beberapa waktu lalu, kata-kata di buku ini lebih mudah dipahami. Dari novel ini juga saya akhirnya tahu bagaimana wujud kebengisan Jepang saat menjajah Indonesia. Dan berasa sayang saja karena bagian siksa-penyiksaan-nya mungkin cuma seperdelapan dari buku ini. Yah, mungkin Pak Pram memang ingin menonjolkan sisi pemikiran Hardo dalam perburuannya di sini.

Beberapa pemuda Indonesia yang masuk kesatuan tentara, Keibodan dan Shodanco, memberontak dan melakuka serangan, menghasut, dan dengan caranya sendiri mempercepat kekalahan jepang oleh Sekutu. Bagaimana mereka menderita dan bahkan dipancung sia-sia hanya karena Jepang jengkel, sedangkan perempuan2 dijadikan pelacur. Sudah seharusnya tiap 17 Agustus, Jepang menyatakan secara live permohonan maaf pada RI dan gadis2 yang dijadikan pelacur itu.

Raden Hardo, anak seorang wedana, keturunan Bangsawan, anggota PETA yang desertir bersama Shodanco Dipo, dan beberapa Shodanco lainnya, Shodanco Hardo adalah pejuang yang sangat cinta Indonesia, tekadnya satu: merebut kemerdekaan dari tangan Jepang. Berlatar perjuangan dalam merebut kemerdekaan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh Shodanco Karmin, Karmin ikut memburu Hardo karena simpatinya yang ia tunjukkan pada Jepang, hal ini tentu menjadikanya sebagai seorang pengkhianat bukan hanya terhadap temannya sendiri; Hardo dan Dipo juga pengkhianat terhadap bangsanya sendiri.

Set in Indonesia towards the end of World War II, The Fugitive (1950; not translated into English until 1990) tells the story of Hardo, an Indonesian fugitive in disguise as a beggar, hunted down by the Japanese.

Sudah diselidiki, ditanyai ke admin goodreads di Amerika sana, namun diagnosisnya baru: akun itu terhapus dan sementara ini belum bisa dipulihkan. Namun sebagai pembaca buku, selama sepuluh tahun ini saya sangat terbantu oleh kebaikan situs ini membantu menata ingatan kami atas buku2 yang pernah kami baca dan bagaimana kami memberi tanggapan atas buku2 itu. Semoga akun Harun segera dipulihkan, dan goodreads jaya selalu.

A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era.