Detik-Detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi

Detik-Detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi

by Bacharuddin Jusuf Habibie

Pak Habibie menganggap, peristiwa Reformasi adalah catatan terpenting kehidupan bangsa Indonesia, termasuk detik-detik pergantian kekuasaan 21 Mei 1998.Mengingat bahwa buku ini ditulis berdasarkan catatan harian beliau dan komentar berbagai surat kabar nasional pada masa itu maka buku ini seolah-olah merupakan rekaman ulang sebuah realitas politik yang amat mencekam saat itu.

Meskipun demikian sisi-sisi kelembutan, di tengah-tengah ketegasan sikapnya, seorang anak bangsa yang bernama B.J. Habibie sangat jelas tergambarkan pula di dalam buku ini.

(Hidayat Nur Wahid)Banyak hal yang sangat menarik dari buku B.J. Habibie "Detik-Detik yang Menentukan", banyak juga yang menarik dari kepribadian penulisnya, setelah membaca buku itu.

Namun demikian tidak meleset jika disimpulkan bahwa: "Buku dan penulisnya menyatu dalam kata "Demokrasi".

Itulah uraian buku ini dan itu pula kunci kepribadian penulisnya yang taat beragama Islam itu.

Dengan demikian terbukti bahwa tidak ada pertentangan sedikit pun antara penegakan demokrasi dan pelaksanaan ajaran Islam.

(Robert.E. Elson)Kesalahfahaman seolah-olah Presiden Habibie menciptakan "bom waktu disintegrasi" melalui kebijakan desentralisasinya adalah sesuatu yang berangkat dari argumen yang keliru dan tidak berdasar.

  • Language: Indonesian
  • Category: Biography
  • Rating: 3.77
  • Pages: 550
  • Publish Date: September 2006 by THC Mandiri
  • Isbn10: 979993866X
  • Isbn13: 9789799938664

What People Think about "Detik-Detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi"

Gue itu adalah satu dari bermilyaran warga NKRI yang ga tau apa-apa tapi sok tau dan selalu negatif sama pemerintah. Tapi setelah baca buku ini, gue bersimpati, kagum dan salut sama dia. Namun pasti masih ada beberapa kekurangan dia yang tidak dicantumkan di buku ini, jadi gue ga segitu menyesali kalau dia ga jadi presiden ke 4. Gue ga yakin saat itu rakyat Indonesia akan sanggup menerima kalau ternyata yang jadi presiden ke 4 dari partai golkar lagi. Masalah Timtim Karena bagi gue, BJ Habibie terkenal sebagai presiden yang membuat Indonesia kehilangan Timor Timur, maka dengan adanya penjelasan di buku ini, gue jadi lebih ngerti dan bisa menerima. Tapi ketika Indonesia kehilangan provinsi itu dan mendengar beberapa kritikan tajam yang bilang Habibie bego, kenapa Timtim dilepas padahal itu bagian dari Indonesia. Tapi setelah baca buku ini, gue setuju dan mendukung tindakan Habibie. Kalau pun bukan asli hasil pemikiran dia, tapi dengan dia mengundang semua tokoh pinter dari dalam atau luar negri untuk mendapat masukan, dan setelah menimbang apa yang dibutuhkan Indonesia, dia bisa memberikan keputusan yang tepat. Walaupun katanya penulisannya seperti diary, tapi bagi gue seperti research paper doctorate contohnya: banyak memberikan deskripsi permasalahan, menimbang beberapa alternatif solusi dan akibat yang mungkin ditimbulkan, kemudian mengambil keputusan dengan kembali menjelaskan alasan kenapa diambil solusi tersbut.

Membuka cakwawala pembacanya akan sudut pandang seorang Habibie sebagai presiden dalam membawa bangsa ini kepada semangat demokrasi.

lebih baik fokus membenahi kondisi negara dan tidak diganggu oleh issue pemberontakan dari GPK di Timor Timur. well, mungkin memang ada muatan politis disini tapi menurut saya tidak banyak. dan menurut saya BJ Habibie tidak gagal menjadi Presidan RI ke 3.

Buku ini tidak hanya menceritakan bagian sejarah Indonesia dari sisi pandang BJ Habibie, tapi juga terdapat teladan dan sikap beliau yang baik, kredibel, dan prediktibel yang dapat dijadikan contoh dan motivasi, sebagai seorang intelektual maupun sebagai pemimpin. Tapi kehadiran buku ini sudah sangat baik, karena jarang sekali ada Presiden yang dapat menulis buku seperti ini. * Beberapa kebijakan yang baik seperti pemisahan Gubernur BI tidak berada langsung di bawah Presiden; keberpihakan UMKM; UU Zakat; dll * Timor Timur sayang sekali memilih berpisah dari Indonesia, entah murni pilihan mayoritas Timor ataupun ada campur tangan dari pihak asing. Amien Rais --> Ditolak oleh Amien Rais, menyarankan Gus Dur. Habibie mengkhawatirkan keadaan fisik dan kesehatan Gus Dur jika menjadi Presiden. Usulan ini diajukan Yusril dan disetujui oleh Habibie dengan syarat merupakan opsi terakhir jika 1-5 tidak ada yang mau menjadi Presiden. Setiap pemimpin apakah besar atau kecil, termasuk Presiden, harus berperilaku sebagai sumber air yang bersih dan jernih, yang dapat memberi kehidupan di sekitarnya agar dapat mekar dan subur, sehat berkembang.

For September 1965, due to its significances, (victim, regime change, ideological change), there are many book and analysis. For 30 September Movement, there is four theory for an alleged mastermind, based on two main actors PKI vs Military. (Noted there is also military people in PKI). 4.Military use PKI. But still a popular theory that many common people accept this. As the public widely accepted that this is a military internal conflict between Wiranto and Prabowo. For example, the conflict in red vs green military is very fluid and complicated as shown below: Phase one: 1970-1983 1. Red White (another theory): Hendropriyono, Wiranto (seeing as green, Aspinal), SBY Phase three: 1998-present (Wiranto and Prabowo, switch sides) (Rinakit) 1.

Saya salut dengan keputusan Bp. Habibie menulis buku ini.