Perawan Dalam Cengkeraman Militer

Perawan Dalam Cengkeraman Militer

by Pramoedya Ananta Toer

Catatan Pramoedya Ananta Toer tentang derita gadis-gadis Indonesia yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang pada masa perang dunia.Tahun 1943, Pemerintahan Pendudukan Balatentara Dai Nippon di Jawa mengeluarkan perintah kepada para remaja perempuan untuk melanjutkan sekolah di Tokyo dan Shonanto.

Mereka dipaksa untuk memenuhi impian seks serdadu Jepang.

  • Language: Indonesian
  • Category: Nonfiction
  • Rating: 3.61
  • Pages: 218
  • Publish Date: March 2001 by Kepustakaan Populer Gramedia
  • Isbn10: 9799023483
  • Isbn13: 9789799023483

What People Think about "Perawan Dalam Cengkeraman Militer"

para Jugun Ianfu kini telah berusia 80-90 tahun..kita terus diburu waktu..dengan makin menuanya usia mereka..mereka tidak mungkin hidup selamanya..dan ketika tiba waktu mereka meninggalkan dunia ini..maka otomatis secara perlahan nasib mereka juga akan dilupakan..pemerintah Indonesia menganggap masalah ini telah usai..dan pemerintah Jepang sendiri menganggap kasus ini hanya sekedar kecelakaan perang..dan lagi menganggap para Jugun Ianfu ini sebagai pelacur komersial..!!! Dahulu di setiap negeri jajahan Jepang, masyarakat/orangtua sering menamakan nama anak perempuan mereka dalam nama Jepang..michiyo fujiwara adalah caraku mengenang masa itu..masa ketika Jepang berkuasa di Indonesia..dan nama ini akan terus ada sampai Jepang (bertanggung jawab dan mengakui kejahatan yang mereka lalukan) dan Indonesia (mendapatkan pelayan dan perlindungan hukum terhadap Para Jufun Ianfu ini)..yaah berarti itu untuk waktu yang lama..entahlah aku cuma berharap kita tidak lupa..

Catatan ini disusun berdasarkan keterangan teman-teman sepembuangan Pramoedya di Pulau Buru, serta hasil pelacakan mereka terhadap para budak seks (jugun ianfu) setelah ditinggalkan begitu saja di Pulau Buru, segera setelah Jepang menyerah pada tahun 1945. Mereka, perempuan-perempuan yang diambil baik secara paksa atau sukarela oleh Jepang itu dari keluarganya dengan janji akan disekolahkan ke Tokyo dan Shonanto (Singapura). Dari catatan yang terkumpul, para perawan itu berusia kurang dari 15-17 tahun, berasal dari kota besar, madya, atau kecil, atau dari kampung dan desa yang ada di dalam kawasan kota. Setelah Jepang kalah dalam perang dunia II pada Agustus 1945, para perawan yang ternyata tidak jadi berangkat ke Tokyo atau Shonanto sesuai Janji tetapi malah ditempatkan di Tempat Pengepolan ditelantarkan begitu saja, tanpa pesangon, tanpa fasilitas dan terabaikan. Hati saya ngilu, bukan saja karena catatan penemuan mereka tentang para perempuan terbuang tersebut, tapi juga akan kehidupan para suku yang belum tersentuh peradaban.

Riset yang sangat baik dari seorang cendikia seperti Pram. Dalam kondisi pembuangannya di Pulau Buru, Pram bersama kawan-kawannya mencari jejak seorang wanita Jawa yang menjadi korban "penipuan" tentara Jepang. Salah satu daya tarik dalam bab ini adalah perjalanan seorang kawan Pram bernama Sarony dalam pencariannya menemui seorang wanita Klaten bernama Mulyati. Akar-akar itu berkaitan satu dengan yang lain, saling melilit, saling mempertahankan, seperti ular besar berkelahi di tepi jurang. 111) Pada paragraf tertentu saya menjadi sedikit emosional karena pendeskripsiannya yang sangat baik dan romantis, ini salah satunya: "Jalan setapak memasuki hutan gempol itu sedikit berair. Juga jenis anggrek bulan lain dan anggrek merpati ramai bergelantungan pada pohon gempol.

Ini bukanlah buku cerita maupun novel, melainkan catatan sejarah mengenai wanita budak seks Jepang (Jugun Ianfu) yang terbuang dan terlupakan di pulau Buru. Di pulau Buru, para wanita tersebut diambil sebagai istri oleh lelaki asli dan beranak pinak di pedalaman hutan.

Buku ini merupakan karya jurnalistik Pram yang begitu detail dalam menggambarkan penderitaan orang pribumi Indonesia yang kerap menjadi 'santapan empuk' serdadu Jepang. Nafsu terakhir inilah yang dieksploitasi oleh pemerintah pendudukan Jepang dengan cara menjaring 'bibit-bibit'nya melalui kedok program 'beasiswa' bagi setiap remaja wanita berumur 14-17 tahun. Perlahan-lahan mereka dipaksa untuk nafsu bejat yang menjadi salah satu kebutuhan dari tentara-tentara pejuang Perang Dunia II ini. Itulah sejumlah wanita yang ia duga merupakan korban-korban dari para serdadu Jepang.

Pram ngalor ngidul dalam bercerita, banyak kosakata yg tak diterjemahkan, tokoh yg harus saya baca ulang agar ingat siapa dia.

Mereka kemudian diperkosa oleh para tentara Jepang tersebut, pada usia yang seringkali masih muda. Setelah ditinggalkan oleh tentara Jepang, banyak dari mereka kemudian lari ke hutan, dan 'dipelihara' oleh suku lokal, tak jarang menjadi istri. Buku ini mengingatkan kata-kata papa saya, dan membuat saya jadi lebih menghargai akan makna hidup merdeka, terlebih lagi karena saya juga seorang perempuan yang ingin hidup bebas berkarya sesuai dengan kemampuan saya.

Jadi buku ini mengulas kehidupan gadis-gadis muda Jawa di jaman penjajahan Jepang. Mendapat iming-iming pendidikan yang lebih tinggi tentu para orang tua antara ikhlas dan tidak harus merelakan anak gadisnya yang rata-rata masih berusia 12-17 tahun-an untuk ikut dibawa tentara jepang. Dan yang lebih mengejutkan, di buku ini diceritain kehidupan beberapa gadis setelah dicampakkan tentara Jepang.

Tema utama buku ini adalah tentang gadis-gadis belasan tahun yang dijadikan sebagai budak seks oleh tentara Jepang semasa mereka menjajah Indonesia 1943-1945. Pramoedya mencatat kegetiran hidup para jugun iaganfu tersebut selama dia dibuang ke Pulau Buru sebagai tahanan politik.

A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era.