Kembang Jepun

Kembang Jepun

by Remy Sylado

Inilah kemegahan cinta yang tulen, yang pernah berakar; dan pernah berantakan, tapi kini kembali menggaung, karena nurani yang tidak pernah menyerah. Ia dipijak, dianiaya, diperkosa, dan dipaksa untuk mati, tapi tak pernah ia merasa kalah, tak pernah ia binasa...DDC: 813

  • Language: Indonesian
  • Category: Novels
  • Rating: 3.57
  • Pages: 325
  • Publish Date: January 2003 by Gramedia Pustaka Utama
  • Isbn10: 9792201378
  • Isbn13: 9789792201376

What People Think about "Kembang Jepun"

Kemegahan Cinta Selama Tiga Zaman Plot utama dalam novel ini adalah kisah cinta antara Keke dan Tjak Broto. Pada zaman kolonial atau zaman penjajahan Belanda, Keke dan Tjak Broto bertemu untuk pertama kali. Saat itu, Keke adalah geisha bernama Keiko di Shinju, sebuah tempat usaha milik orang Jepang di Kembang Jepun, sedangkan Tjak Broto wartawan surat kabar di Surabaya. Sebagai simbol cinta mereka, Tjak Broto memberi Keke sebuah liontin yang terpatri mantra supaya pemakainya dikasihi. Beberapa tahun kemudian, Keke meninggalkan Shinju untuk menikah dengan Tjak Broto. Akan tetapi, Keke yang dipaksa mengenakan seragam tentara Jepang oleh Hiroshi Masakuni tidak tampak oleh Tjak Broto. Meskipun keduanya sudah tua dan tidak cantik lagi, meskipun zaman telah berganti dua kali, mereka masih saling cinta, sebagaimana Keke masih menyimpan liontin pemberian Tjak Broto beberapa puluh tahun silam. Ketidakegoisan tampak manakala Keke tidak memaksa untuk bertemu dengan Tjak Broto yang sudah menikah lagi. Pada akhir cerita, Remy dapat membuat pembacanya bertanya-tanya apakah cerita dalam novel ini benar-benar pernah terjadi atau dengan kata lain, apakah Keke dan Tjak Broto benar-benar (pernah) ada. Kemegahan cinta Keke dengan Tjak Broto selama tiga zaman dalam Kembang Jepun memberi kita gambaran akan cinta yang tulen, cinta yang sungguh, atau yang kerap kali disebut-sebut sebagai cinta sejati.

Ambil latar belakang Soerabaia tempo doeloe, yang kebetulan selalu bikin saya tertarik banget, Remy memang nggak sedetail penggambaran Lan Fang di bukunya Perempuan Kembang Jepun. Bukan berniat membandingkan, tapi dengan tema yang sama, bagi saya, Lan Fang seakan lebih paham Surabaya.

Dan Tjak Broto, menurut saya, adalah gambaran laki-laki pribumi vokal (progresip repolusyoner) yang hidup pada zaman penjajahan Belanda dan juga Jepang. Tapi terdapat beberapa kejanggalan dalam novel ini, di antaranya; kegelisahan Keke kecil yang baru meninggalkan keluarganya kurang diperlihatkan, memang sejak awal lebih fokus pada Keke dewasa, yang telah menjadi dan bahkan bangga menjadi geisha, tapi jimat apakah yang dimiliki Keke kecil sampai bisa menjaid begitu tangguhnya ketika harus hidup jauh dari orang tua?

Kisah cinta Keke seorang gadis Minahasa yang dididik menjadi geisha dan berubah nama menjadi Keiko.

Kedua, membiarkan diri saya sendiri berkali2 membaca satu atau dua halaman buku ini berkali-kali, lalu meninggalkannya sebelum bada akhirnya benar-benar membaca buku ini dengan serius dan tuntas. Beginilah nasib pembaca moody _ (tapi yang pasti saya bukan sekadar pembaca, halah!) Perjumpaan saya dengan buku ini pertama kali adalah di JBF beberapa bulan lalu, sempat hendak meninggalkannya karena merasa over budget belanja. Sungguh, saya terpukau dengan detail, kronologis sejarah, dan ketelatennya dalam buku ini. *** Jika novel ini selalu dikaitkan dengan buku Memoirs of Geisha, rasanya saya kurang setuju. Geisha yang ada dalam buku ini adalah Kembang Jepun. Dan lagi, buku ini tidak menceritakan tentang apa dan siapa itu Geisha seperti dalam buku Arthur Golden. Sebuah roman biasa yang menjadi tidak biasa dalam balutan sejarah.

Saya mudah kasmaran pada buku dengan khas bertutur; dan Kembang Jepun, lewat suara Keiko, membawa kita sepanjang cerita dengan dayuan ala Melayu. Bisa kita bayangkan perkembangan batin Keiko sebagai manusia, didera itu semua. Namun takjubnya saya, Keiko menepis itu semua atas nama kekuatan cinta dan dengan ungkapan pamungkas, "Terserah nasib saja." Keiko bukannya karakter yang tidak dinamis. Penuh gejolak, namun Remy Sylado memilih untuk tidak berlama-lama menggambarkan perkembangan karakter-karakternya. Kuat duga saya, lantaran ia punya agenda lebih besar di balik sekadar mengurusi hidup Keiko yang penuh derita. Remah-remah detail disusun begitu seksama, hingga percayalah kita bahwa Keiko mungkin tidak nyata, namun sejatinya mewakili sekian jumlah wanita tanpa nama yang menjalani kehidupan sebagai geisha oplosan dan jadi saksi pemerintahan tiga zaman. Seolah tidak ingin eposnya goyah, di akhir cerita KEMBANG JEPUN memang masih kukuh berpegang pada "kekuatan cinta mengalahkan segalanya". KEMBANG JEPUN tidak sukses sebagai epos cinta, namun kekayaan semestanya bulat jadi pelipur lara.

Sejak usia 18 tahun dia sudah menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman popular, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang sudah tidak diragukan lagi. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya diluar budayanya. Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, dan Sekolah Tinggi Teologi.