Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

by Tere Liye

Bayangkan saat ini ada satu malaikat bersayap indah datang kepada kita, lantas lembut berkata: Aku memberikan kau kesempatan hebat.

Lima kesempatan untuk bertanya tentang rahasia kehidupan, dan aku akan menjawabnya langsung sekarang.

Lima Pertanyaan.

Maka apakah kita akan bertanya: Apakah cinta itu?

Apakah hidup ini adil?

Apakah kita memilki pilihan dalam hidup?

Apakah makna kehilangan?Ray (tokoh utama dalam kisah ini), ternyata memiliki kecamuk pertanyaan sendiri.

Lima pertanyaan sebelum akhirnya dia mengerti makna hidup dan kehidupannya.Siapkan energi Anda untuk memasuki dunia Fantasi Tere-Liye tentang perjalanan hidup.

  • Language: Indonesian
  • Category: Novels
  • Rating: 4.28
  • Publish Date: February 28th 2009 by Penerbit Republika
  • Isbn10: 9793858133

What People Think about "Rembulan Tenggelam Di Wajahmu"

Dan manusia bagai air hujan yang berdatangan terus-menerus, membuat riak.. Siapa yang peduli dengan sebuah bulir air hujan yang jatuh ke kolam, menit sekian, detik sekian? Kalau engkau memahaminya dari sisi positif, maka kau akan mengerti ada yang peduli atas bermiliar-miliar bulir air yang membuat riak tersebut, Peduli atas riak-riak yang kau timbulkan di atas kolam, sekecil atau sekejap apapun riak itu.. Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu, Seseorang yang tahu bahwa kebaikan bisa mengubah siklusnya, Maka dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik..

Penceritaan bermula dengan kisah Rehan, seorang anak yatim yang merenung langit senja dan berguguran air matanya. Barangkali mungkin kerana saya merasakan permulaan kisah Ray sebagai anak yatim adalah cerita biasa-biasa, tidak ada yang luar biasa. Dan persoalan Rehan, anak yatim yang timbul di awal kisah, terjawab di penghujung jalan cerita. Novel ini menyuntik semangat dan perasaan, tiada apa yang berlaku itu semuanya dengan kebetulan.

Tetapi ini terkecuali untuk karya-karya Tere Liye kerana saya suka gagasan pemikiran dalam setiap tulisannya iaitu memandang kehidupan dengan sederhana, berbaik sangka dengan Tuhan dan bersyukur pada setiap nikmatNya. Jikalau anda pembaca karya beliau, anda akan perasan 3 elemen yang saya nyatakan tadi pasti ada dalam setiap karyanya. Tetapi, oleh kerana saya mahu mengetahui jawapan-jawapan 5 pertanyaan Ray kepada Allah, maka saya tabahkan juga hati untuk meneruskan pembacaan Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Saya tidak menangis sepanjang menguliti kisah kehidupan Ray di dalam Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Kenapa kita tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih kehidupan yang lebih baik ketika dilahirkan. Kita selalu sahaja terlupa yang setiap urusan makhluk-makhluk Tuhan itu sudah disusun kemas oleh Tuhannya. Tidak mungkin Tuhan terlepas pandang sehingga memberikan khabar-khabar buruk sahaja dalam setiap perjalanan kehidupan ini. Kita sebenarnya sangat jahil untuk memahami yang kehidupan ini mematuhi konsep sebab dan akibat. Mungkin garis kehidupan kita menjadi penyebab kepada orang lain untuk kembali kepada Tuhan. Kita perlu yakin sungguh-sungguh yang setiap orang sentiasa memperoleh kesempatan untuk kembali kebenaran. Oleh kerana itu, kita harus sentiasa berbuat kebaikan agar berakibat baik juga kepada orang lain. Dia tidak faham banyak perkara-perkara kecil tetapi berakibat besar kepada orang lain. Penghuni yang sudah dianggap sebagai keluarganya dan dia pernah berjanji di dalam hati, jikalau ada sesiapa yang mengacau mereka, dia sendiri akan membalas pengacau itu. Tetapi, Ray tidak faham semua garis-garis kehidupan itu. Dia tidak faham yang garis kehidupannya menyebabkan penjaga panti asuhan yang jahat itu bertaubat. Dia tidak faham penjaga yang makan duit anak yatim dan dibenci seumur hidup itulah yang mendermakan organ untuk dirinya. Dia tidak faham yang dengan garis kehidupannya itulah yang menyebabkan banyak orang di sekelilingnya berjaya di kemudian hari dan menemui kebahagiaan hakiki. Ray lupa yang jawapan kepada persoalan kepada keadilan Allah terlalu banyak kerana keadilan Allah itu sendiri tidak terhitung banyaknya . Allah menterjemahkannya dengan pelbagai bentuk dan tidak semua bentuk-bentuk keadilan itu dikenali. Penceritaan tempoh 6 tahun inilah sahaja cerita bahagia di dalam novel ini dan saya tidak sedih-sedih sepanjang membaca. Si Gigi Kelinci selalu berkata kepada Ray, "Bagiku kau ikhlas dengan semua yang kulakukan untukmu. Bila semua kehidupan ini menyakitkan, kau yakin di luar sana masih ada bagian yang menyenangkan". Jauh di sudut hatinya, dia sentiasa berharap kepada Tuhan walau dia tidak pernah memahami segala detik-detik hatinya itu kerana pemahaman agama yang cetek. Cukup menjadi penyebab kenapa semua persoalannya terjawab agar dia juga beroleh kesempatan untuk kembali pada jalan Allah. Nanti tidak akan ada lagi pertanyaan-pertanyaan kerana kita sudah yakin, setiap yang berlaku pasti untuk tujuan itu. "Ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji masa depan. sebaliknya ketika merasa semua kesenangan, maka saat itu lihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu.

Apa saja lima pertanyaan itu dan bagaimana perjalanan hidup Ray, semuanya ada di buku ini dan tidak ingin aku ceritakan...

"..sejatinya pertanyaan itu tentang definisi ukuran-ukuran Ray. Apakah yang disebut kejadian menyakitkan? Sejatinya pertanyaan itu tentang perbandingan..." Ray sejak kecil hidup di Panti. "Sejatinya pertanyaan itu tentang perbandingan...", kata makhluk yang 'ditugasi' menjawab pertanyaan Ray. Apa yang sebenarnya menyakitkan dan menyenangkan itu?

Kisah yang membumi, meskipun agak kurang real membumi, karena Tere Liye (ada yg tau nama aslinya ?, cowok), tidak mengidentifikasi lokasi secara jelas. Seorang yang beruntung oleh Sang Penguasa Alam Semesta diberi kesadaran tentang pertanyaan-pertanyaan yang selama ini membebani jalan hidupnya. Menyadarkan, bahwa tidak ada satu pun yang diciptakan oleh Tuhan di dunia ini tanpa maksud. Kalau selama ini kita -maaf, lebih tepatnya saya- belum sadar akan kata-kata ini, jelas karena saya yang terlalu malas untuk merenung.

Kita tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui dan perjuangkan untuk mencapai kehidupan mereka yang sekarang. Karena itu, bersyukurlah dengan kehidupanmu yang sekarang. Rasa sakit yang timbul karena kejadian menyakitkan itu sementara.

Ceritanya menyentuh perasaan namun banyak manfaat yang dapat saya ambil. Dimulai dengan seorang tua yang membawa Ray mencari jawapan kepada 5 persoalan utama dalam hidupnya.

Karena ada begitu banyak hal yang ingin aku tuliskan untuk memperlihatkan bahwa buku ini telah menawan hatiku, mengesankan jiwaku. Harus kuakui, dan mungkin ini semacam peringatan bagi yang tertarik untuk membaca, buku ini membuatku sangat lelah secara emosional. Awal membaca buku ini, aku agak bingung dengan plot yang melompat-lompat. memang begitu plot awal dari buku ini, tapi tak perlu bingung teruskan saja membaca.. Karena semua hal-hal yang membingungkan di awal buku ini akan terjawab seiring dengan bertambahnya lembaran yang telah kalian baca. Plot buku ini, kalau boleh aku katakan adalah seperti sebuah lingkaran yang utuh dimulai dari satu titik, dan semuanya kembali berhubungan kepada titik awal. Mungkin kalian pernah dengar petuah seperti ini "Apa yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurut Allah swt" atau mungkin hadist ini "Janganlah engkau berprasangka, karena sebagian dari prasangka adalah dosa." atau kepercayaan kita bahwa sakit yang berkepanjangan, jika kita sabar karenanya sesungguhnya melunturkan dosa-dosa kita. Tapi siapa yang peduli dengan orisinil atau tidak ide buku ini -toh memang tidak pernah ada yang orisinil di dunia ini. Karena dari berprasangka buruk itulah kita telah membiarkan hati yang mengambil alih, menduga-duga... Dan setelah membaca buku ini rasa-rasanya sekarang aku sudah tidak sanggup lagi berdoa kepada Tuhan seperti "I want it and it my Lord.." tapi cukup lah dengan "Just give me the best my Lord." Akhir kata, terima kasih Bang Tere, bukumu ini telah mengajarkan banyak hal padaku. Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu.

2. Kenapa aku tidak pernah diizinkan bahagia? lima pertanyaan itu menghantam ingatannya kembali seperti apa kehidupannya dahulu? Bagaimana kehidupannya bertemu dengan si jelita Gigi Kelinci yang tidak ingin apapun di dunia ini kecuali Rey.. Ketika semuanya berakhir menyakitkan dan tidak ada kata telat untuk bisa memaafkan dan menerima itu semua.. kisah yang rumit dan sarat akan pesan moral patut untuk buku ini dikoleksi.. Kalo dipikir-pikir sebelumnya saya pernah membaca buku kisah serupa dimana seseorang yang sedang kritis/mati berjalan-jalan dengan malaikat melihat kembali frase kehidupan di masa lalunya seperti karya Mitch Albom yang berjudul The Five People You Meet in Heaven terus ada lagi karya Arswendo Atmowiloto yang berjudul Kau Memanggilku Malaikat tapi saya akui Tere-Liye piawai meramu semua konflik, ending yang klimaks dengan apik dibandingkan novel-novel yang saya sebutkan diatas..